PENDUDUK
PADAT PENYAKIT MERAJALELA!
Penduduk adalah orang-orang yang mendiami suatu
tempat, wilayah atau negeri, dan merupakan aset pembangunan atau sering disebut
sumber daya manusia (SDM). Kepadatan
penduduk adalah jumlah penduduk yang mendiami suatu wilayah atau daerah
tertentu dengan satuan per kilometer persegi. Ciri-ciri kepadatan penduduk yang
makin lama makin tinggi adalah tingginya pertumbuhan penduduk yang terus
berjalan dan meningkatnya jumlah pemukiman di daerah tersebut.
Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk
adalah kelahiran, kematian, dan perpindahan penduduk. Kelahiran dan kematian
dinamakan faktor alami sedangkan perpindahan penduduk adalah faktor non alami.
Migrasi ada dua yaitu migrasi masuk yang artinya menambah jumlah penduduk
sedangkan migrasi keluar adalah mengurangi jumlah penduduk. Migrasi itu biasa
terjadi karena pada tempat orang itu tinggal kurang ada fasilitas yang memadai.
Selain itu juga kebanyakan kurangnya lapangan kerja. Maka dari itu banyaklah orang
yang melakukan migrasi.
Dalam masalah ini maka penduduk tidak akan jauh dengan
masalah kesehatan atau penyakit yang melanda penduduk tersebut,dikarenakan
lingkungan yang kurang terawat ataupun pemukiman yang kumuh,seperti limbah
pabrik,selokan yang tidak terawat yang menyebabkan segala penyakit akan melanda
para penghuni wilayah tersebut yang mengakibatkan kematian dan terjadi
pengurangan jumlah penduduk.
Untuk menjamin kesehatan bagi semua orang di lingkunan yang
sehat, perlu jauh lebih banyak daripada hanya penggunaan teknologi medikal,
atau usaha sendiri dalam semua sektor kesehatan. Usaha-usaha secara terintegrasi
dari semua sektor, termasuk organisasi-organisasi, individu-individu, dan
masyarakat, diperlukan untuk pengembangan pembangunan sosio-ekonomi yang
berkelanjutan dan manusiawi, menjamin dasar lingkungan hidup dalam
menyelesaikan masalah-masalah kesehatan.
Seperti semua makhluk hidup, manusia juga bergantung pada
lingkungannya untuk memenuhi keperluan-keperluan kesehatan dan kelangsungan
hidup. Kesehatanlah
yang rugi apabila lingkungan tidak lagi memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia
akan makanan, air, sanitasi, dan tempat perlindungan yang cukup dan aman-
karena kurangnya sumber-sumber atau distribusi yang tidak merata. Kesehatanlah yang rugi apabila
orang-orang menghadapi unsur-unsur lingkungan yang tidak ramah seperti
binatang-binatang mikro, dan bahan-bahan beracun.
Kesehatan manusia adalah keperluan dasar untuk pembangunan
berkelanjutan. Tanpa kesehatan, manusia tidak dapat membangun apa pun, tidak
dapat menentang kemiskinan, atau melestarikan lingkungan hidupnya. Sebaliknya,
pelestarian lingkungan hidup merupakan hal pokok untuk kesejahteraan manusia
dan proses pembangunan. Lingkungan yang sehat menghasilkan masyarakat yang
sehat, sebaliknya lingkungan yang tidak sehat menyebabkan banyak penyakit.
Kemampuan manusia untuk mengubah atau memoditifikasi kualitas
lingkungannya tergantung sekali pada taraf sosial budayanya. Masyarakat yang
masih primitif hanya mampu membuka hutan secukupnya untuk memberi perlindungan
pada masyarakat. Sebaliknya, masyarakat yang sudah maju sosial budayanya dapat
mengubah lingkungan hidup sampai taraf yang irreversible.
Perilaku masyarakat ini menentukan gaya hidup tersendiri yang akan menciptakan
lingkungan yang sesuai dengan yang diinginkannya mengakibatkan timbulnya
penyakit juga sesuai dengan prilakunya tadi. Dengan demikian eratlah
hubungan antara kesehatan dengan sumber daya sosial ekonomi.
WHO menyatakan “Kesehatan adalah suatu keadaan sehat yang utuh
secara fisik, mental dan sosial serta bukan hanya merupakan bebas dari
penyakit”. Dalam Undang Undang No. 9 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan.
Dalam Bab 1 Pasal 2 dinyatakan bahwa “Kesehatan adalah meliputi kesehatan badan
(somatik), rohani (jiwa) dan sosial dan bukan hanya deadaan yang bebas dari
penyakit, cacat dan kelemahan”. Definisi ini memberi arti yang sangat luas pada
kata kesehatan.
Keadaan kesehatan lingkungan di Indonesia masih merupakan hal
yang perlu mendapaat perhatian, karena menyebabkan status kesehatan
masyarakat berubah seperti: Peledakan penduduk, penyediaan air bersih,
pengolalaan sampah, pembuangan air limbah penggunaan pestisida, masalah gizi,
masalah pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan obat, populasi udara,
abrasi pantai,penggundulan hutan dan banyak lagi permasalahan yang dapat
menimbulkan satu model penyakit. Lalu bagaimana jumlah penduduk dan tingkat kesehatan di kota Palembang?
Kota Palembang adalah ibu kota provinsi Sumatera Selatan.
Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatera setelah Medan.
Kota Palembang memiliki luas wilayah 358,55 km yang dihuni 1,8 juta orang
dengan kepadatan penduduk 4.800 per km². Palembang terdiri dari 16 kecamatan dan 107 kelurahan.
Prediksi
penduduk dilihat dari analisis terdahulu pertumbuhan penduduk per tahun periode
1990-1995 adalah 3,45%, periode 1995-2000 adalah 1,4% dan menurun menjadi
-1,62% pada periode 2000-2005. Berdasarkan 3 periode tersebut maka rata-rata
pertumbuhan penduduk Palembang adalah 1,06% per tahun. Namun dilakukan revisi
atas data kependudukan tahun 2000, dengan demikian angka penduduk tahun 2000
tidak dapat dijadikan patokan perhitungan proyeksi. Oleh karena itu prediksi kependudukan
kota Palembang ke depan akan menggunakan rata-rata pertumbuhaan selama periode
1999-2005 yaitu 1,22% per tahun. Sampai tahun 2030, jumlah penduduk kota
Palembang adalah sebanyak 2,5 juta orang.
Secara geografis, Palembang terletak di 2°59′27.99″LS 104°45′24.24″BT. Luas wilayah Kota Palembang adalah 358,55 Km² dengan ketinggian
rata-rata 8 meter dari permukaan laut. Letak Palembang cukup strategis karena
dilalui oleh jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan antar daerah di Pulau
Sumatera. Dibawah ini adalah peta kota Palembang dengan keterangan jumlah penduduk di setiap kecamatan.
JUMLAH
PENDUDUK DI SETIAP KECAMATAN
NO.
|
KECAMATAN
|
JUMLAH
PENDUDUK
|
1.
|
Ilir
Barat II
|
65.991
|
2.
|
Gandus
|
62.146
|
3.
|
Seberang
Ulu I
|
176.749
|
4.
|
Kertapati
|
84.698
|
5.
|
Seberang
Ulu II
|
99.222
|
6.
|
Plaju
|
81.891
|
7.
|
Ilir
Barat I
|
135.385
|
8.
|
Bukit
Kecil
|
43.967
|
9.
|
Ilir
Timur I
|
71.418
|
10.
|
Kemuning
|
85.002
|
11.
|
Ilir
Timur II
|
165.238
|
12.
|
Kalidoni
|
110.982
|
13.
|
Sako
|
91.087
|
14.
|
Sematang
Borang
|
37.434
|
15.
|
Sukarami
|
164.139
|
16.
|
Alang-alang
Lebar
|
105.168
|
*Data diatas merupakan data kependudukan tahun 2015 yang berasal dari
Badan Pusat Statistika atau BPS kota Palembang.
JUMLAH SAMPAH YANG DIHASILKAN PENDUDUK KOTA PALEMBANG
NO.
|
BULAN
|
JUMLAH
(Kg)
|
Rata-rata
per hari (Kg)
|
1.
|
Januari
|
14.252.889
|
459.771
|
2.
|
Februari
|
12.725.080
|
454.467
|
3.
|
Maret
|
14.264.130
|
460.133
|
4.
|
April
|
13.825.500
|
460.850
|
5.
|
Mei
|
14.294.470
|
461.112
|
6.
|
Juni
|
14.006.610
|
466.687
|
7.
|
Juli
|
12.891.232
|
415.846
|
8.
|
Agustus
|
13.371.005
|
431.323
|
9.
|
September
|
13.282.170
|
442.739
|
10.
|
Oktober
|
15.006.740
|
484.088
|
11.
|
November
|
12.274.260
|
409.142
|
12.
|
Desember
|
13.978.900
|
450.932
|
JUMLAH
|
164.166.986
|
449.758
|
Apakah hubungan
kepadatan penduduk, tingkat kesehatan, dan volume sampah yang dihasilkan? Tentu
saja 3 hal ini saling berhubungan, aktivitas
manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sering menimbulkan dampak buruk pada
lingkungan. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan dan kertas, maka
kayu di hutan ditebang. Untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian, maka
hutan dibuka dan rawa/lahan gambut dikeringkan. Untuk memenuhi kebutuhan
sandang, didirikan pabrik tekstil. Untuk mempercepat transportasi, diciptakan
berbagai jenis kendaraan bermotor. Apabila tidak dilakukan dengan benar,
aktivitas seperti contoh tersebut lambat laun dapat menimbulkan pencemaran
lingkungan dan kerusakan ekosistem. Misalnya penebangan hutan yang tidak
terkendali dapat mengakibatkan berbagai bencana seperti banjir dan tanah
longsor, serta dapat melenyapkan kekayaan keanekaragaman hayati di hutan
tersebut. Apabila daya dukung lingkungan terbatas, maka pemenuhan kebutuhan
penduduk selanjutnya menjadi tidak terjamin.
Di daerah yang padat, karena terbatasnya
tempat penampungan sampah, seringkali sampah dibuang di tempat yang tidak
semestinya, misalnya di sungai. Akibatnya timbul pencemaran air dan tanah.
kebutuhan transportasi juga bertambah sehingga jumlah kendaraan bermotor
meningkat. Hal ini akan menimbulkan pencemaran udara dan suara. Jadi kepadatan
penduduk yang tinggi dapat mengakibatkan timbulnya berbagai pencemaran
lingkungan dan kerusakan ekosistem. Dari pencemaran lingkungan akan menyebabkan
tingkat kesehatan masyarakat terganggu, akan terjadi infeksi saluran
pernafasan, diare, dan banyak penyakit lain yang akan menghinggapi tubuh.
NO.
|
NAMA PENYAKIT
|
JUMLAH KASUS
|
1.
|
Infeksi akut lain pada saluran pernafasan bagian atas
|
164.638
|
2.
|
Gastritis
|
67.629
|
3.
|
Penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat
|
44.200
|
4.
|
Penyakit tekanan darah tinggi
|
40.966
|
5.
|
Infeksi kulit
|
31.261
|
6.
|
Diare
|
28.443
|
7.
|
Penyakit lain pada saluran pernafasan bagian atas
|
26.618
|
8.
|
Alergi kulit
|
24.169
|
9.
|
Penyakit pulpa dan jaringan perlapikal
|
19.909
|
10.
|
Gingivitis dan penyakit periodental
|
18.473
|
Data yang
tersaji di tabel tersebut menunjukkan penyakit yang paling banyak dan yang
paling sering dialami oleh masyarakat kota Palembang. Infeksi saluran pernafasan akut atau sering
disebut sebagai ISPA adalah terjadinya infeksi yang parah pada bagian sinus,
tenggorokan, saluran udara, atau paru-paru. Infeksi yang terjadi lebih sering
disebabkan oleh virus meski bakteri juga bisa menyebabkan kondisi ini. Penyakit
ISPA menjadi penyandang pertama penyakit yang sering dialami masyarakat,
mengapa demikian? Menurut saya hal tersebut bisa terjadi karena kepadatan
penduduk di kota Palembang yang sudah mencapai angka 1.503.485
juta pada tahun 2012 dan meningkat menjadi 1.580.517
pada tahun 2015. Lalu apa korelasi antara penyakit ISPA dan kepadatan penduduk?
Tentu saja dua hal ini ada hubungannya. Banyaknya penduduk di kota Palembang
akan menyebabkan banyaknya penggunaan kendaraan bermotor, pada tahun 2013
penggunaan kendaraan bermotor sudah mencapai 1,6 juta, dan hal ini menyebabkan
polusi udara di kota Palembang semakin bertambah. Bahan pencemar udara umumnya
berasal dari pembakaran bahan bakar fosil yang tidak sempurna oleh mesin-mesin
pabrik, pembangkit listrik, kendaraan bermotor, dan lain-lain. Dari pembakaran
tersebut akan dihasilkan gas dan asap yang sangat membahayakan. Meningkatnya intensitas pembangunan, selain
mengakibatkan meningkatnya pemanfaatan lahan, air, dan sumber daya alam
lainnya, juga menimbulkan limbah dan polusi dalam kadar yang makin meningkat yang dapat mengakibatkan
menurunnya kualitas dan daya dukung lingkungan hidup.
Selama ini banyak
penderita alergi yang sering mengalami batuk dan pilek dalam berulang dan hilang
timbul dalam jangka panjang selalu mengatakan bahwa gangguan tersebut karena
alergi. Padahal tanpa disadari bahwa di antara gejala alergi tersebut juga
mengalami infeksi saluran napas. Ternyata penderita alergi mudah terserang
infeksi, sebaliknya saat infeksi menimbulkan gejala alerginya meningkat. Secara
sepintas membedakan infeksi dan alergi mudah tetapi faktanya banyak
penderita bahkan dokter sering mendiagnosis alergi sebagai infeksi
atau sebaliknya infeksi dianggap sebagai alergi. Justru biasanya bila
gejala alergi timbul tidak ke dokter karena gejalanya ringan. Penderita
alergi berobat ke dokter karena gejala alerginya dipicu atau diperberat oleh
infeksi, biasanya paling sering infeksi virus. Infeksi dan alergi bisa
menjadi indikator pada penyakit di saluran pencernaan seperti diare. Jika hal
ini terus dibiarkan maka bisa menimbulkan penyakit yang lebih serius nantinya. Dari
hal ini bisa disimpulkan bahwa satu hal atau satu penyebab bisa berhubungan
satu sama lain.
Gingivitis, juga umumnya disebut
penyakit gusi atau penyakit periodontal, menggambarkan kejadian-kejadian yang
mulai dengan pertumbuhan bakteri di dalam mulut anda dan mungkin berakhir dengan
kehilangan gigi jika tidak dirawat dengan baik yang disebabkan oleh perusakan
dari jaringan yang mengelilingi gigi-gigi. Sebenarnya, gingivitis dan
periodontitis adalah dua stadium yang berbeda dari penyakit gusi. Jika
gingivitis dibiarkan tidak dirawat, ia dapat berlanjut ke periodontitis. Pada
orang dengan periodontitis, lapisan bagian dalam dari gusi dan tulang menjauh
dari gigi-gigi dan membentuk kantong-kantong (pockets). Ruang-ruang kecil ini antara gigi-gigi dan gusi-gusi
mengumpulkan puing-puing (kotoran) dan dapat menjadi terinfeksi. Dapat disimpulkan
bahwa banyak dari masyarakat di kota Palembang belum memperhatikan kesehatan
gigi dan gusi. Penyakit pada gigi dan gusi tidak bisa dibiarkan begitu saja
karena akan menimbulkan penyakit lain yang lebih kompleks dan berbahaya.
Dari
penjelasan diatas bisa disimpulkan bahwa kepadatan penduduk bisa menyebabkan
berbagai macam hal seperti kesuburan
tanah, daerah atau wilayah yang ditempati banyak penduduk, karena dapat
dijadikan sebagai lahan bercocok tanam dan sebaliknya. Iklim, wilayah yang
beriklim terlalu panas, terlalu dingin, dan terlalu basah biasanya tidak
disenangi sebagai tempat tinggal, Topografi atau bentuk permukaan tanah pada
umumnya masyarakat banyak bertempat tinggal di daerah datar, sumber air, perhubangan
atau transportasi, fasilitas dan juga pusat-pusat ekonomi, pemerintahan. Dan juga
dari hal diatas yang paling penting adalah bagaimana upaya kita dalam menjaga
potensi yang ada di kota Palembang dan tidak mencemari sungai serta udara yang
dugunakan untuk hajat hidup orang banyak.
SUMBER :

Komentar
Posting Komentar